Selasa, 09 April 2013
Semester ini merupakan semester genap yang menandai tahun keduaku di kampus ganesha, ada pengalaman unik selama bermain di kampus ini terutama di dua unit yang saya ikuti Gamais ITB dan Mata' Salman ITB. Pastilah dalam setiap kegiatan menjalankan acara atau program kerja unit yang seabrek-abrek berhadapan dengan makhluk yang dikategorikan ikhwan dan makhluk yang dikategorikan akhwat.
Entah mengapa setelah hampir 2 tahun ada beberapa karakter khas dalam menjalankan proker dan kegiatannya diantaranya,
akhwat pasti paling totalitas dalam mengerjakan amanahnya, yang paling selesai duluan, yang paling tanggap dan total lah intinya,akhwat yang sering menanyakan kabar perkembangan prokernya, sedangkan ikhwan kalem-kalem aja. Ikhwan cenderung lambat, jarang hadir, sok sibuk dsb. Ikhwan selalu lebih banyak bicara namun sedikit aksi,dalam beberapa hal akhwat sering mengalah untuk mendahulukan pendapat ikhwan
Dari keadaan diatas saya analisis bahwa saat ini semua sedikit berbalik, ikhwan-ikhwan yang notabenenya adalah qiyadah-qiyadah dalam setiap aktifitas ke-LDK-an jarang yang bisa menonjolkan karakternya sebagai 'pemimpin' untuk bisa diteladani dan dicontoh oleh jundi-jundinya. Namun akhwat-akhwat yang tidak dalam posisi di atas berani bergerak lebih cepat, kontribusi nyata bahkan jangan salah kalo dikasih tugas yang lebih berat dan lebih banyak saya yakin kerjaannya bakal beres. Ada pengalaman pribadi ketika datang suatu syuro pada pagi harinya dan disana seorang akhwat diminta untuk mencatat notulensi maka pada siang harinya hasil notulensi sudah terpublish di grup, ada juga yang dengan senang hati membuat konsep games dan ternyata dengan cepat konsep games berikut teknis pengerjaanya langsung terupload digrup. Sedangkan teman-teman ikhwan hanya bisa berkata, luar biasa sekali akhwat-akhwat jaman sekarang. Kebalikannya dengan ikhwan ketika dikasih suatu kerjaan tertentu kebanyakan sangat tawadhu dan mendahulukan temannya, sambil berkata 'silakan antum dlu akh,an ngga jago masalah ini,antum lebih jago kok :D'. Hhe memang tidak semua ikhwan seperti yang saya ceritakan diatas, masih ada ikhwan-ikhwan yang bisa diandalkan. Namun jika dilihat dari kuantitasnya sangat sedikit sekali. Hhe.
Tulisan ini hanya sebuah renungan dan tentunya kasus diatas tidak bisa digeneralisisasi, Semangat Akhi, mari kita contohkan :D
Senin, 18 Maret 2013
![]() |
Akhir-akhir ini sering ngobrol sama temen-temen pas lagi belajar bareng, topiknya tidak banyak beda masih seputar cara belajar yang baik itu seperti apa.
Salah satu temen sharing bahwa ada satu mata ujian yang memang dia sudah bisa dibilang optimis menjelang ujian,sudah bolak-balik textbook, sudah dapat nilai yang memuaskan ketika ujian tulis sebelum ujian yang sebenarnya. Teman yang lain juga bercerita bahwa semenjak kuliah di kampus gajah ini belum pernah bisa belajar mandiri, masih tersendat kuliahnya dan sebagainya. Ini memang jadi permasalahan mahasiswa yang masih transisi dari kebiasaan SMA ke kebiasaan kampus.
Lalu obrolan kami berubah, membuka pikiran tentang realita sebenarnya yang ada diantara kita. Bahwa ada mahasiswa yang memang sangat jarang sekali terlihat belajar atau bisa dibilang tidak belajar tapi bisa mendapatkan hasil ujian yang optimal. Bisa dibilang sehari-harinya main game, dikelas main game, beres kelas sering ngariung di himpunan dan lain-lain,pekerjaan yang sekiranya tidak menggambarkan bahwa itu bisa mendukung perkuliahannya. Dilain sisi ada juga mahasiswa yang sudah sering belajar, hilang dari peradaban dan teman-temannya sudah tahu bahwa dia memang suka belajar, begadang semalaman demi belajar. Akan tetapi tidak mendapatkan nilai maksimal. Selain itu juga ada orang yang sedikit belajar tapi hasilnya luar biasa. Ada juga kasus dimana dalam suatu waktu kita tidak bisa menjawab soal dengan baik namun di waktu lain yang tidak terlalu lama perbedaan waktunya, kita bisa menjawab soal tersebut dengan cepat dan tepat. How can?
Dari kejadian-kejadian diatas kita mulai berpikir kenapa bisa terjadi banyak kasus seperti diatas. Kita mulai membuka mata bahwa sebenarnya ilmu yang kita punya bukan milik kita, bahkan otak yang kita gunakan untuk berpikir untuk menyelesaikan segalam persoalan pun bukan milik kita. Mungkin kesadaran ini yang tidak pernah diajarkan di sekolah-sekolah selama kita mengenyam pendidikan , yaitu
ilmu dan organ berpikir yang sering kita gunakan dalam menyelesaikan persoalan adalah bukan milik kita, tetapi pemilik Rabb semesta alam, Rabb manusia,Rabb jin,Rabb hewan,Rabb tumbuhan dan Rabb apa yang ada dilangit,dibumi dan apa yang ada diantara keduanya.Dari kesadaran ini,seorang mahasiswa seperti kita bisa lebih menyadari bahwa sebenarnya kita tidak tahu apa-apa tanpa izin-Nya untuk kita menjadi tahu. Kita bukan apa-apa tanpa izin-Nya untuk kita bisa mengerjakan soal dengan baik. Bahkan kita bukan apa-apa jika Dia tidak memberikan kita niat untuk sekedar membaca textbook. Dari kesadaran ini juga seorang mahasiswa akan terbuka ketika mendapatkan hasil yang baik itupun bukan apa-apa kalau bukan karena izin-Nya hasil yang baik itu untuk kita. Betapa lemahnya manusia. -Renungan-
Minggu, 24 Februari 2013
Dalam menjalani suatu kehidupan sering kali kita dihadapi dengan hal-hal yang tidak kita ketahui tentangnya, padahal hal tersebut merupakan suatu hal yang sangat penting. Saya pernah meminta nasihat kepada seorang sahabat tentang menyikapi hal-hal yang berkaitan dengan agama Islam tetapi kita tidak mengetahui hukum tersebut. Dan dengan baik seorang sahabat ini menjawab :
Terjemahan ayatnya sebagai berikut :
Berlanjut dengan rasa penasaran, sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan ayat ini, berikut saya ambil tafsir yang sudah di sepakati oleh mayoritas ulama, tafsir ibnu katsir :
Kesimpulan pendapat mereka dapat dikatakan,
Sebenarnya ada tafsiran lanjutannya, nanti saya tulis lagi di postingan yang berbeda insya Allah. Yuk berhati-hati dalam bertindak, mudah-mudahan kehati-hatian termasuk dari perilaku taqwa kita kepada Allah :D
Soon #AdvanceGamais2011
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatah dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawabannya (Q.S Al-Isra' :36)
Berlanjut dengan rasa penasaran, sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan ayat ini, berikut saya ambil tafsir yang sudah di sepakati oleh mayoritas ulama, tafsir ibnu katsir :
Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa makna la taqfu ialah la taqul (janganlah kamu mengatakan).
Menurut Al-Aufi, jangalah kamu menuduh seseorang dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuan bagimu tentangnya.
Muhammad ibnul Hanafiyah mengatakan, makna yang dimaksud adalah persaksian palsu.
Qatadah mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah janganlah kamu mengatakan bahwa kamu melihatnya, padahal kamu tidak melihatnya; atau kamu katakan kamu mendengarnya,padahal kamu tidak mendengarnya; atau kamu katakan bahwa kamu mengetahuinya,padhal kamu tidak mengetahui. Karena sesungguhnya Allah kelak akan meminta pertanggungjawaban darimu tentang hal itu secara keseluruhan.
Kesimpulan pendapat mereka dapat dikatakan,
bahwa Allah SWT melarang sesuatu tanpa pengetahuan, bahkan melarang pula mengatakan sesuatu dengan zan (dugaan) yang bersumber dari sangkaan dan ilusi.
Sebenarnya ada tafsiran lanjutannya, nanti saya tulis lagi di postingan yang berbeda insya Allah. Yuk berhati-hati dalam bertindak, mudah-mudahan kehati-hatian termasuk dari perilaku taqwa kita kepada Allah :D
Soon #AdvanceGamais2011
Sabtu, 16 Februari 2013
Ada perkataan bagus dari salah seorang Mujaddid (pembaharu) Islam di zamannya yaitu Umar bin Abdul Aziz. Seorang khalifah (pemimpin/presiden) yang dizamannya tidak ada seorang pun yang miskin kecuali ia dan pembantunya , yang di zamannya tidak ada rakyat yang berhak mendapatkan zakat. Berikut nasihat Umar bin Abdul Aziz kepada sebagian pegawainya :
Aku berwasiat kepadamu agar senantiasa bertaqwa kepada Allah dan berlaku sederhana dalam menjalankan perintah-Nya, mengikuti sunnah (tuntunan) Rasulullah SAW, meninggalkan perkara-perkara baru dalam agama yang diada-adakan oleh orang-orang setelahnya, dan berhentilah pada batas-batas ajarannya. Dan ketahuilah, bahwa seseorang tidaklah berbuat bid'ah melainkan telah ada sebelumnya hal yang menunjukkan kebid'ahannya dan pelajaran buruk yang ditimbulkannya. Karena itu, kamu wajib berpegang teguh dengan As-Sunnah, sebab ia merupakan tameng dan pelindung ( dari berbagai kesesatan dan kebinasaan) bagi dirimu dengan izin Allah. Dan ketahuilah barangsiapa yang berjalan diatas sunnah, sungguh dia telah mengetahui bahwa tindakan menyelisihinya adalah kesalahan, kekeliruan, sikap berlebih-lebihan dan kedunguan. Maka generasi terdahulu dari umat ini telah berhenti dan menahan diri mereka dengan ilmu yang mapan (dari bid'ah-bid'ah) padahal mereka adalah orang yang sanggup membahas suatu masalah agama,akan tetapi mereka tidak membahasnya. (Shahih Sunan Abi Dawud )
Begitu dalam nasihat seorang mujadid Islam kepada sebagian pegawainya untuk tidak menyelisihi jalan para sahabat Rasulullah, seorang pemimpin yang memimpin karena Allah tanpa bumbu-bumbu dunia, yang menginginkan keselamatan dirinya dan juga keselamatan rakyat yang dipimpinnya. Bukan hanya keselamatan dunia, juga keselamatan akhirat. Rindu rasanya dengan pemimpin dan pemerintahan yang bisa membawa diri ini kepada keselamatan dunia dan akhirat. Wallahu'alam
Quotes diambil dari Syarah Ushulus Sunnah Imam Ahmad
Kamis, 31 Januari 2013
Dosen : Kalian tahu penyebab jerman kalah dalam perang dunia pertama
lawan Rusia?
Mahasiswa : nggak tahu pak,
Dosen : penyebabnya adalah kancing pakaian perang pasukan jerman yang
terbuat dari timah.
Mahasiswa : ohiya?
Dosen : kita tahu timah punya beberapa alotropi, timah ini bisa berubah
menjadi bentuk lain dari timah pada suhu kurang dari 5 derajat
celcius, sementara kita tahu bahwa saat perang di rusia sedang
musim dingin, ketika pasukan jerman masuk daerah rusia secara
tiba-tiba kancing-kancing pakaian perang jerman copot karena
timah penyusun kancingnya berubah bentuk menjadi bentuk lain
(alotropi). Jelaslah ketika terbuka kancingnya pasukan jerman jadi
kedinginan dan kalah dalam perang
Kejadian ini menjadi pelajaran buat kita semua, sebuah kisah bangsa besar saat itu (jerman) bisa kalah perang hanya karena kelemahan sainssya mendeteksi alotropi dari timah. Bagaimana dengan Indonesia? hhe, jawab sendiri dalam hati.
Jaya Sains Indonesia :D
Jaya Sains Indonesia :D
Rabu, 30 Januari 2013
Kisah Islam ini bercerita tentang 2 orang bani israil yang pengusaha, kemudian salah satunya berhutang kepada yang lain.
Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Abu Hurairah dari Rasulullah bahwa beliau menyebutkan seorang laki-laki dari kalangan Bani Israil yang meminta hutang seribu dinar kepada laki-laki lain yang juga dari Bani Israil. Pemilik uang berkata, "Datangkan saksi-saksi kepadaku agar mereka menyaksikannya." Laki-laki itu menjawab, "Cukuplah Allah sebagai Saksi." Pemilik uang berkata, "Datangkanlah seorang penjamin." Laki-laki itu berkata, "Cukuplah Allah sebagai Penjamin." Pemilik uang berkata, "Kamu benar."
Lalu pemilik uang memberikan kepadanya untuk jangka waktu tertentu. Penghutang ini pun menyeberangi lautan dan menunaikan kepentingannya, kemudian dia mencari perahu yang memulangkannya karena tempo hutang telah hampir habis. Dia tidak mendapatkan perahu, maka dia mengambil sebatang kayu dan melubanginya. Dia memasukkan seribu dinar ke dalamnya dan sepucuk surat kepada temannya, kemudian dia menutupnya dengan kuat dan membawanya ke laut.
Dia berkata, "Ya Allah sungguh Engkau mengetahui bahwa aku berhutang kepada fulan seribu dinar. Dia meminta seorang penjamin kepadaku, lalu aku menjawabnya, 'Cukuplah Allah sebagai Penjamin.' Dia rela dengan-Mu. Dia meminta seorang saksi kepadaku, maka aku menjawabnya, 'Cukuplah Allah sebagai Saksi.' Lalu dia rela dengan-Mu. Dan aku telah berusaha menemukan perahu untuk memberikan haknya, tetapi aku tidak menemukannya. Dan sekarang aku menitipkannya kepada-Mu."
Lalu dia melemparkannya ke laut hingga ia masuk ke dalamnya, lalu dia kembali. Dalam kondisi tersebut dia terus mencari perahu agar bisa pulang ke kotanya. Lalu pemilik uang keluar melihat-lihat, mungkin ada sebuah perahu yang datang membawa uangnya. Dia pun menemukan kayu yang berisi uang tersebut. Dia mengambilnya sebagai kayu bakar untuk keluarganya. Manakala dia menggergaji kayu itu, dia menemukan uang dan sepucuk surat.
Selanjutnya, laki-laki yang berhutang itu pulang dengan membawa seribu dinar. Dia berkata kepada pemilik uang, "Aku terus berusaha mencari perahu agar bisa membawa uangmu, tetapi aku tidak menemukannya sebelum saat aku datang kepadamu sekarang." Pemilik uang bertanya, "Apakah kamu mengirim sesuatu kepadaku?" Dia menjawab, "Aku katakan kepadamu bahwa aku tidak mendapatkan perahu sebelum aku datang saat ini." Pemilik uang berkata, "Sesungguhnya Allah telah menunaikannya untukmu dengan apa yang kamu kirim di kayu itu. Sekarang, ambillah seribu dinarmu ini dengan baik."
Langganan:
Entri (Atom)
Labels (list)
10 kesia-siaan
akhwat kuat
Alotrop
amal jama'i
Bani Israil
belajar jadi mahasiswa
cara belajar yang baik
dauroh
DP2Q
DP2Q1
evaluasi
GanecaGP
handphone
Hutang Piutang
ibnul qoyyim
ikhwan lemah
indonesia
Islam
ITB
kaderisasi
kaderisasi gamais
kampus
kehidupan dalam berLDK
kemahasiswaan
kimia
Kimia Analitik
Kisah Inspiratif
Kisah Islam
kuliah.
LDK
mahasiswa pembelajar
majelis ta'lim salman
metode
Nasihat Islam
Nasihat Umar bin Abdul Aziz
pemerintah
pemimpin
Perang Dunia Pertama
persoalan mahasiswa
realita kehidupan ke-LDK-an
semester 3
smartphone
strategi
Surat Al-Isra' ayat 36
surat utang negara
Tafsir Ibnu Katsir
target
Teknologi
ubuntu
utang
uts II DDKA








